Thursday, October 3, 2013

TUGAS ILMU SOSIAL DASAR



Indonesia saat ini termasuk salah satu negara yang masih dalam taraf perkembangan atau disebut dengan negara berkembang. Tidak jauh berbeda dengan negara berkembang lain di dunia, Indonesia juga sering menghadapi berbagai macam masalah yang kadangkala bisa menghambat kemajuan. Salah satu yang paling kentara dan menjadi problem yang serius adalah masalah sosial.
Masalah yang kadangkala juga punya hubungan dengan budaya suatu daerah ini memang menjadi semacam virus atau penyakit yang sering kambuh, misalnya pada ada suatu masalah sosial yang sudah bisa terselesaikan.
Namun pada sisi yang lain efek dari masalah ini masih ada dan harus ditanggung oleh masyarakat. Dan setelah efek ini sudah bisa diminimalkan muncul permasalahan serupa di daerah lain yang cara penanganannya kadangkala memerlukan teknik yang berbeda sesuai dengan budaya yang ada di daerah tersebut.
Kemudian contoh yang lain lagi adalah masyarakat menganggap ada suatu masalah sosial di suatu daerah. Namun masyarakat di daerah terebut menganggap bila yang terjadi di daerahnya bukan merupakan suatu masalah karena telah menjadi bagian dari budaya mereka.
Padahal secara kasat mata apa yang dinamakan budaya ini bisa menimbulkan kerugian bagi pihak lain dan menghambat suatu program yang sedang dijalankan. Hal inilah yang sering terjadi di negara negara berkembang termasuk negara kita Indonesia.
Inilah beberapa masalah sosial yang terjadi di tanah air.
1. Kemiskinan
Meski saat ini angka pertumbuhan ekonomi bangsa kita terus menunjukan grafik kenaikan namun pada kenyataannya masih banyak masyarakat di sekitar kita yang hidupnya masih berada di bawah standar yang layak. Ini menjadi masalah sosial yang bisa kita temukan dengan mudah baik di daerah pedesaan maupun perkotaan.
Seseorang disebut miskin apabila ia tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar. Kebutuhan dasar ini dijabarkan menjadi sandang, papan, pangan, kesehatan, dan pendidikan (walaupun di negara maju kesehatan dan pendidikan umumnya ditanggung negara).
Menurut ilmu sosiologi, ada beberapa hal yang menyebabkan kemiskinan:
  • Pilihan untuk menjadi (atau tetap) miskin, yang tercermin dari pola pikir, pilihan hidup, dan perilaku individu; misalnya berperilaku malas dan tidak mau berusaha.
  • Sulitnya akses untuk mendapat pendidikan yang layak dan pekerjaan.
  • Perasaan terbiasa dengan kemiskinan (karena hidup di lingkungan miskin) sehingga menganggap kemiskinan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
  • Kemiskinan sebagai akibat dari permasalahan struktural, yaitu orang-orang miskin terjebak dalam kemiskinannya sebagai korban permasalahan struktur sosial.
Walaupun kini pemerintah mengklaim bahwa angka kemiskinan berhasil ditekan, beberapa pihak tetap skeptis karena belum ada program yang tepat dan efektif untuk mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Beberapa usaha pemerintah mengentaskan masalah sosial ini adalah melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat atau PNPM Mandiri, berbagai pelatihan kerja cuma-cuma, hingga BLT atau Bantuan Langsung Tunai.
Akan tetapi rupanya itu semua belum cukup. Kemiskinan di negeri ini bukan sebuah permasalahan solitaire yang ada dengan sendirinya. Kemiskinan adalah sebuah efek domino dari sulitnya mendapat pendidikan layak yang berujung pada sulitnya mendapatkan pekerjaan.
Pembangunan di daerah-daerah juga menjadi akar permasalahan kemiskinan. Pembangunan yang tidak jelas dan tidak merata (karena banyaknya dana yang dikorupsi) menyebabkan masyarakat mengadu nasib di ibu kota. Kebanyakan dari mereka hanya tidak berhasil dan hidup terlunta-lunta di tengah kerasnya kehidupan Jakarta.
2. Kesenjangan Sosial
Masalah sosial ini juga bisa menimbulkan efek yang lain. Misalnya terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara orang yang mampu dan kelebihan harta serta orang yang hidupnya selalu dalam kondisi yang pas-pasan saja. Hal ini bisa menimbulkan rasa kecemburuan yang tinggi sehingga menghilangkan rasa persaudaraan di masyarakat. Ini juga dapat memacu terjadinya tindakan kriminal. Sebenarnya hal seperti ini bisa dihilangkan kalau si kaya tidak bersikap ombong dan mau berbagi dan si miskin tidak iri dan tidak meminta-minta, tapi kadang manusia tidak selalu bisa bersikap dan berbuat baik.
3. Kemacetan Lalu Lintas
Masalah sosial yang satu ini lebih sering terjadi terutama di kota-kota besar. Padahal efek dari kemacetan ini juga bisa menimbulkan kerugian yang cukup besar. Misalnya karena harus antri di keramaian lalu lintas orang akan kehilangan waktu untuk bekerja atau kegiatan lain yang bersifat produktif. Kemacetan lalu lintas bisa dianggap sebagai masalah sosial karena akar permasalahan kemacetan adalah sikap pengguna jalan raya yang tidak disiplin mematuhi rambu dan bertingkah seenaknya saja. Kemacetan sebenarnya dapat diatasi sedikit demi sedikit, dengan cara mengurangi bepergian dengan mobil pribadi dan lebih memilih kendaraan umum, dengan ini bisa mengurangi polusi udara, tentunya harus didukung dengan sarana transportasi yang memadai, layak jalan, nyaman dan aman dari tindakan kriminal di jalan umum, karena sebenarnya faktor-faktor inilah yang membuat masyarakat kita menghindari bepergian dengan kendaraan umum dan lebih memilih kendaraan pribadi.


4. Disiplin yang kurang

Hal ini menjadi masalah sosial yang paling punya pengaruh terhadap kemajuan suatu wilayah atau negara. Namun untuk menangani masalah yang satu ini memang dibutuhkan kerja keras dan waktu yang cukup lama. Karena untuk menghilangkan problem yang kadangkala sudah menjadi budaya ini butuh pemahaman yang cukup dalam warga. Harus dimulai dari diri sendiri, agar memberi pengaruh baik terhadap orang-orang di sekitar. Kemajuan suatu negara tergantung dari disiplin masyarakatnya. Disiplin dari hal kecil yang rutin dilakukan untuk kemudian menjadi terbiasa berdisiplin dalam hal besar. 
5. Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme
KKN adalah masalah sosial yang relatif terjadi merata di berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pejabat pemerintahan hingga pegawai kecil di daerah pernah melakukan KKN, sebesar apa pun jumlahnya. KKN harus segera diberantas jika ingin masyarakat hidup sejahtera dan negara ini semakin maju.

6. Pengangguran
Pengangguran terkait dengan tidak seimbangnya jumlah pencari kerja dan jumlah lapangan kerja yang tersedia. Orang yang disebut pengangguran adalah mereka yang tidak memiliki sumber penghasilan sama sekali dan tengah mencari kerja. Tingkat pengangguran di Indonesia konon menurun sebanyak 6%, dari 8,12 juta orang menjadi 7,61 juta orang.
Ada beberapa jenis pengangguran, yaitu:
  • Pengangguran terbuka; yaitu mereka yang secara terang-terangan baru kehilangan pekerjaannya dan sedang berusaha mencari pekerjaan lain.
  • Pengangguran musiman; yaitu mereka yang sewaktu-waktu menganggur tetapi dalam waktu lain memiliki pekerjaan.
  • Pengangguran terselubung; yaitu mereka yang jam kerjanya kurang dari 35 jam/minggu.
  • Pengangguran struktural; yaitu mereka yang tidak mendapatkan pekerjaan karena tidak memenuhi kriteria yang dibutuhkan
  • Pengangguran sukarela; yaitu mereka yang tidak memiliki pekerjaan dan tidak berusaha mencari pekerjaan.
Untuk mengatasi pengangguran, pemerintah banyak mengupayakan berbagai cara. Di antaranya adalah dengan menyediakan kursus pelatihan kerja di dinas tenaga kerja daerah, memacu anak muda (dan pengangguran) untuk berwiraswasta dan meminjamkan dana dengan bunga rendah (bahkan tanpa bunga), dan sebagainya.
Pengangguran, selain menimbulkan efek ekonomis bagi para pelakunya, juga menimbulkan efek psikologis. Menjadi pengangguran sering kali dianggap aib, walaupun pelaku terpaksa menjadi pengangguran karena memang tidak ada perusahaan yang menerimanya bekerja.
7. Masalah Kependudukan
Tingginya jumlah populasi di Indonesia menyebabkan munculnya berbagai macam masalah serius lainnya. Oleh karena itu, pemerintah berusaha untuk menyelesaikan masalah kependudukan ini dengan menjalankan beberapa program, diantaranya adalah menggalakkan KB, sensus penduduk, e-KTP, dll. Semua program tersebut dijakankan dengan tujuan supaya pemerintah memiliki data kependudukan yang valid sehingga bisa memudahkan pemerintah dalam mengambil keputusan untuk menangani masalah - masalah kependudukan.


8. Penyalahgunaan Narkoba

Indonesia merupakan negara yang menarik bagi para pengedar narkoba. Hasil studi terakhir menunjukkan bahwa anak  anak usia SD dan SLTP di Indonesia ternyata sebagai pemakai aktif narkoba. Bahkan beberapa kali berita tertangkapnya pemakai narkoba di dalam rutan yang melibatkan petugas sipir telah berhasil menjadi headline surat kabar lokal dan nasional. 

9. Kejahatan

Tingginya angka kejahatan di suatu wilayah dipicu oleh tingginya tingkat kemiskinan di wilayah tersebut pula. Terlebih disaat menjelang Ramadhan dan lebaran, tingkat kejahatan meningkat dengan drastis karena para penjahat menjadi lebih nekat untuk melakukan aksi kejahatan.

10. Pendidikan
Masalah pendidikan di Indonesia adalah cerita lama. Mulai dari bangunan roboh sampai anak-anak putus sekolah adalah masalah yang mendarah daging sejak dahulu. Inilah sekelumit masalah pendidikan yang ada di Indonesia:
  • Sulitnya akses pendidikan (di daerah-daerah)
  • Kurangnya sarana dan prasarana pendidikan yang memadai
  • Kurangnya kualitas guru
  • Kesejahteraan guru yang sangat minim
  • Tidak relevannya kurikulum pendidikan dengan kebutuhan hidup (sebagian besar pelajaran di sekolah fokus pada teori di dalam kelas, bukannya percobaan dan pengalaman langsung)
  • Mahalnya biaya pendidikan
  • Tidak adanya kesadaran orang tua di daerah-daerah untuk menyekolahkan anaknya
Memang, beberapa sekolah di perkotaan sudah relatif maju dan memadai. Akan tetapi cobalah Anda pikirkan, apakah presentasi anak yang sekolah di sekolah eksklusif serba memadai setara dengan anak yang harus berjalan kaki berjam-jam untuk menuju sekolahnya yang reyot?
Pembangunan yang terlalu terpusat di perkotaan dan tidak merata ke daerah-daerah di Indonesia menyebabkan terjadinya permasalahan pendidikan. Adapun masyarakat miskin perkotaan tetap harus menahan keinginannya untuk mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah yang bermutu.
Kabar baiknya, pemerintah sedang berusaha untuk meluruskan benang kusut masalah sosial ini. Berbagai program dijalankan dengan tujuan memperbaiki pendidikan Indonesia, seperti program Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk memenuhi kebutuhan fasilitas dan sarana sekolah, program Indonesia Mengajar untuk memenuhi kebutuhan guru di pelosok, program Sertifikasi Akta IV bagi pengajar untuk meningkatkan kualitas tenaga pendidik, program sekolah gratis untuk membantu mereka yang tidak mampu membayar biaya pendidikan, berbagai program beasiswa, dan sebagainya.
Permasalahan pendidikan juga mencakup tidak memadainya pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus. Terbatasnya jumlah Sekolah Luar Biasa (SLB) cukup menyulitkan bagi para orang tua dengan anak berkebutuhan khusus. Namun di daerah-daerah, banyak juga orang tua yang berpikir bahwa anaknya yang ‘berbeda’ tidak perlu disekolahkan. Ini juga sepatutnya menjadi fokus pemerintah.

No comments:

Post a Comment